BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan jasmani
dan olahraga merupakan sebuah investasi jangka panjang dalam upaya pembinaan
mutu sumber daya manusia Indonesia, meskipun hasil yang diharapkan itu akan
dicapai setelah masa yang cukup lama. Oleh karena itu upaya pembinaan warga
masyarakat dan peserta didik melalui pendidikan jasmani dan olahraga
membutuhkan kesabaran dan keikhlasan untuk berkorban. Sebagai upaya pembinaan
mutu sumber daya manusia, pendidikan jasmani dan olahraga di lembaga pendidikan
formal dapat berkembang lebih pesat agar mampu menjadi landasan bagi pembinaan
keolahragaan nasional. Proses pembentukan sikap dan pembangkitan motivasi harus
dimulai pada usia dini. Oleh sebab itu pendidikan jasmani dan olahraga yang di
sekolah-sekolah formal disebut pendidikan jasmani dan kesehatan (penjaskes)
sudah diberikan sejak seorang siswa berada di bangku sekolah Taman Kanak-kanak,
Sekolah Dasar sampai dengan Perguruan Tinggi.
Olahraga merupakan
salah satu bentuk dari upaya peningkatan kualitas manusia Indonesia yang
diarahkan pada pembentukan watak dan kepribadian, disiplin dan sportifitas yang
tinggi, serta peningkatan prestasi yang dapat membangkitkan rasa kebanggaan
nasional (GBHN Tap MPR No. II/MPR/1993). Di samping itu, kebiasaan seseorang
untuk melakukan kegiatan olahraga dapat memberikan dampak pada kesegaran
jasmani dan rohaninya sehingga menjadi lebih bugar dan sehat.
Seseorang yang
mempunyai kesegaran jasmani yang tinggi akan dapat melakukan pekerjaannya
dengan baik dan tanpa melakukan kelelahan yang beearti, serta tubuhnya segar
ketika berhenti bekerja atau beristirahat. Tentunya dengan mental yang semakin
segar pula. Sebaliknya, tingkat kesegaran jasmani yang rendah akan merupakan
kendala dalam pelaksanaan pekerjaan, oleh karena tuntutan pekerjaan yang
meminta aktifitas jasmani tidak dapat terpenuhi, dan ini sudah barang tentu
akan berpengaruh dengan tingkat produktifitas kerjanya.
Istilah kesegaran
jasmani berasal dari hasil seminar nasional kesegaran jasmani tanggal 16 Maret
sampai dengan 20 Maret 1971 di Jakarta, dengan pertimbangan bahwa istilah
tersebut telah umum dipergunakan di Indonesia sebelum diselenggarakan seminar
nasional. Banyak istilah yang diajukan untuk mengistilahkan kesegaran jasmani
misalnya Samapta jasmani oleh POLRI, Kebugaran Jasmani menurut Soedijatmo
Somowerdojo, Kemampuan Jasmani oleh Radioputro yang kesemuanya adalah
terjemahan dari istilah physical fitness. Menurut Lawren dan Ronald
istilah physical fitness dapat disamakan dengan istilah organic
fitness atau physiological fitness (Rusli Lutan dan Adang Suherman, 1999)
Menurut hasil
seminar nasional dinyatakan bahwa seseorang yang memiliki kesegaran jasmani
dapat diartikan sebagai orang yang mempunyai kesanggupan dan kemampuan untuk
melakukan pekerjaannya dengan efisien tanpa menimbulkan kelelahan yang berarti.
Kesegaran jasmani
ada yang berhubungan erat dengan kesehatan, ada pula yang berhubungan erat
dengan keterampilan. Kesegaran jasmani yang berhubungan dengan kesehatan
meliputi: 1) kesegaran cardiovasculer atau cardiovasculer fitness,
2) kesegaran kekuatan otot atau strenght fitness, 3) kesegaran
keseimbangan tubuh atau body composition atau body weight fitness,
4) kesegaran kelentukan atau fleksibility fitness (M. Sajoto, 1988:43).
Sedangkan kesegaran
jasmani yang berhubungan dengan keterampilan atau skill meliputi: 1)
koordinasi atau coordination, 2) daya tahan atau endurance, 3)
kecepatan atau speed, 4) kelincahan atau agility, 5) daya ledak
atau power (M. Sajoto, 1988:43-44).
Sesuai dengan
uraian tersebut jelaslah bahwa kesegaran jasmani sangat penting bagi seseorang
guna menjalankan aktifitas dalam kehidupan sehari-hari. Orang yang memiliki
kesegaran jasmani yang baik tidak akan mudah mengalami rasa capek dan dapat
lebih berkosentrasi dalam menyelesaikan suatu pekerjaan serta memiliki daya
tahan yang lebih baik terhadap penyakit. Di samping itu, kebutuhan akan
istirahat untuk mengembalikan kondisi semula, lebih singkat dibandingkan dengan
orang yang kondisi kesegaran jasmaninya kurang baik. Tentunya hal ini sangat
menunjang dalam proses penyelesaian pekerjaan sehari-hari.
Bertolak dari latar
belakang tersebut maka penulis tertarik untuk meneliti status kesegaran jasmani
siswa Kelas VIII SMP
Kertanegara Malang Tahun Pelajaran 2011/2012. Faktor
yang mendukung penelitian ini adalah karena menurut informasi yang peneliti
dapatkan dari guru Penjaskes kelas VIII SMP Kertanegara Malang, status kesegaran jasmani
siswa kelas VIII belum pernah diteliti oleh peneliti terdahulu. Harapannya
adalah dengan diadakannya penelitian ilmiah, maka guru dapat menyusun program
pengembangan kesegaran jasmani siswa menjadi lebih baik lagi. Oleh karena
itu,peneliti terdorong untuk meneliti mengenai “Profil Kesegaran Jasmani Siswa-siswi Kelas VIII
SMP Kertanegara Malang Tahun Pelajaran 2011/2012”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalah dalam
penelitian ini adalah, sebagai berikut:
1. Bagaimana profil kesegaran jasmani siswa -
Siswi kelas VIII SMP Kertanegara Malang Tahun Pelajaran 2011/2012?
C. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah di atas, maka tujuan yang ingin dicapai dalam
penelitian ini adalah, sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui profil kesegaran jasmani
siswa – Siswi kelas VIII SMP Kertanegara Malang Tahun Pelajaran 2011/2012 .
D. Manfaat Penelitian
1.
Bagi guru
a. Sebagai bahan informasi tentang profil
kesegaran jasmani siswa-siswi kelas VIII SMP Kertanegara Malang Tahun Pelajaran
2011/2012.
b. Sebagai bahan pertimbangan dalam rangka
meningkatkan kesegaran jasmani siswa, misalnya melalui periodisasi pelaksanaan
program latihan fisik.
2. Bagi lembaga
a. Sebagai bahan kepustakaan bagi peneliti
lain yang meneliti tentang masalah serupa.
b. Sebagai bahan bacaan bagi mahasiswa,
khususnya jurusan Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi, untuk memperkaya
pengetahuan di bidang olahraga.
3. Bagi peneliti
a. Sebagai pengalaman bagi peneliti dalam
ilmu olahraga.
b. Sebagai dasar penelitian yang serupa di
kemudian hari.
c. Sebagai bahan akhir bagi peneliti dalam
menyelesaikan tugas akhir guna memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Jasmani
Kesehatan dan Rekreasi.
E. Asumsi Penelitian
Agar penelitian bisa terarah, maka penulis memberikan asumsi, sebagai
berikut:
1. Setiap siswa telah mengenal dan mampu
melakukan tes Kesegaran Jasmani Indonesia, karena telah mendapatkan pelajaran
berupa teori dan praktek dari guru Penjaskes di sekolah.
2. Tingkat kesegaran jasmani siswa hampir
sama.
3. Rata-rata usia siswa tidak jauh berbeda.
4. Sarana dan prasarana penelitian tersedia
dan memadai atau layak untuk digunakan.
F. Definisi Istilah
1.
Profil
Profil adalah: 1) sebuah pandangan dari
samping (tentang wajah seseorang), 2) lukisan gambar dari samping tentang
sketsa biografis, 3) grafik atau ikhtisar yang memberikan fakta tentang hal-hal
khusus (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2002:897).
Profil yang dimaksud dalam penelitian
ini adalah pengetahuan tentang tingkat kesegaran jasmani siswa-siswi
kelas VIII SMP Kertanegara Malang Tahun Pelajaran 2011/2012 berdasarkan hasil
tes Kesegaran Jasmani Indonesia.
2.
Kesegaran jasmani
Kesegaran jasmani adalah kemampuan
tubuh seseorang untuk melakukan tugas atau pekerjaan sehari-hari tanpa
menimbulkan suatu efek kelelahan yang berarti (Pusat Pengembangan Kualitas
Jasmani Tahun, 2003). Sementara itu, Judith Rink (M. Sajoto, 1988:43)
mendefinisikan pengertian kesegaran jasmani sebagai “suatu kemampuan yang
dimiliki oleh seseorang dalam rangka menyelesaikan tugas sehari-hari dengan
tanpa mengalami kelelahan berarti dengan mengeluarkan energi yang cukup besar,
guna memenuhi kebutuhan-kebutuhan geraknya dan menikmati waktu luang serta
untuk memenuhi keperluan darurat bila sewaktu-waktu diperlukan”.
Dalam penelitian ini, pengukuran
kesegaran jasmani didasarkan pada pengukuran kesegaran kekuatan otot (strength
fitness) dengan menggunakan bentuk tes Kesegaran Jasmani Indonesia.
3.
Siswa-siswi kelas VIII SMP Kertanegara
Malang Tahun Pelajaran 2011/2012
Siswa adalah sekumpulan pelajar pada
suatu sekolah tingkat dasar dan menengah (Kamus Besar Bahasa Indonesia,
2002:1102). Umumnya, kata ‘siswa’ adalah sebutan untuk siswa laki-laki,
sedangkan siswi adalah sebutan untuk siswa perempuan.
Siswa-siswi kelas VIII SMP Kertanegara
Malang Tahun Pelajaran 2011/2012 adalah murid sekolah tingkat menengah pertama
yang terdaftar di SMP Kertanegara Malang pada Tahun Ajaran 2011/2012, dengan
rata-rata usia antara 12 tahun s/d 15 tahun.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Pengertian Kesegaran
Jasmani
Kesegaran jasmani
merupakan terjemahan dari kata physical fitness, yaitu adalah orang yang fit dan segar adalah orang
sehat yang mempunyai tenaga cadangan yang cukup, tidak hanya untuk menghadapi
keadaan-keadaan yang darurat tetapi untuk mengisi waktu luang.
Memberikan
pengertian-pengertian tentang kesegaran jasmani sangat sulit dikarenakan
kesegaran jasmani merupakan permasalahan yang sangat komplek. Pendapat tentang
kesegaran jasmani telah banyak dikemukakan para ahli. Menurut Sudarno (1992:9),
kesegaran jasmani adalah suatu keadaan saat tubuh mampu menunaikan tugas
hariannya dengan baik dan efisien tanpa mengalami kelelahan yang berarti, dan
tubuh masih memiliki cadangan tenaga baik untuk mengatasi cadangan mendadak
maupun yang darurat.
Kesegaran jasmani
adalah seseorang yang cukup mempunyai kesanggupan dan kemampuan untuk melakukan
pekerjaan dengan efesien tanpa menimbulkan kelelahan yang berarti (Kamiso,
1991:58). Menurut M. Sajoto (1988:43) kesegaran jasmani adalah kemampuan
seseorang menyelesaikan tugas sehari-hari dengan tanpa mengalami berarti,
dengan pengeluaran energi yang cukup besar guna memenuhi kebutuhan geraknya dan
menikmati waktu luang serta memenuhi keperluan darurat bila sewaktu-waktu diperlukan.
Menurut Depdikbud
PJKR (1997:4), kesegaran jasmani pada hakekatnya berkenaan dengan kemampuan dan
kesanggupan fisik seseorang untuk melaksanakan tugasnya sehari-hari secara
efisien dan efektif dalam waktu yang relatif lama tanpa menimbulkan kelelahan
yang berarti, dan masih memiliki tenaga cadangan untuk melaksanakan aktifitas
lainnya.
B. Unsur-unsur Kesegaran
Jasmani
Kesegaran jasmani
mencakup pengertian yang sangat luas dan komplek. Untuk itu agar dapat memahami
konsep kesegaran jasmani yang baik, diperlukan pengetahuan tentang unsur-unsur
kesegaran jasmani. Unsur-unsur kesegaran jasmani merupakan satu kesatuan dan
memiliki keterkaitan yang erat antara satu dengan yang lain, dan masing-masing
unsur memiliki ciri-ciri tersendiri serta memiliki fungsi pokok atau
berpengaruh pada kesegaran jasmani seseorang. Agar seseorang dapat dikatakan
tingkat kondisi fisiknya baik atau tingkat kesegaran jasmaninya baik, maka
status setiap unsur kesegaran jasmani harus dalam kategori baik.
Dalam proses
pengukuran kesegaran jasmani, maka yang perlu diukur adalah hal-hal yang
menyangkut: 1) kesegaran kardiovaskuler, 2) kesegaran kekuatan otot, 3)
kesegaran keseimbangan tubuh, dan 4) kesegaran kelentukan. Dan jika ingin
mengetahui unsur lain, maka yang perlu diukur adalah unsur motor fitness, meliputi: 1) koordinasi, 2) keseimbangan, 3)
kecepatan, 4) kelincahan, dan 5) daya ledak (M. Sajoto, 1988:43-44).
Secara umum unsur
atau unsur-unsur dari kesegaran jasmani itu adalah: 1) daya tahan
kardiovaskuler (cardiovascular endurance), 2) daya tahan otot (muscle
endurance), 3) kekuatan otot (muscle strength), 4) kelentukan (flexibility),
5) komposisi tubuh (body composition), 6) kecepatan gerak (speed
of movement), 7) kelincahan (agility), 8) keseimbangan (balance),
9) kecepatan reaksi (reaction time), 10) koordinasi (coordination)
(Depdikbud,1996:1).
1. Daya tahan kardiovaskuler
Daya tahan
kardiovaskuler adalah kesanggupan sistem jantung, paru dan pembuluh darah untuk
berfungsi secara optimal pada keadaan istirahat dan kerja dalam mengambil
oksigen dan menyalurkan ke jaringan yang aktif sehingga dapat dipergunakan pada
proses metabolisme tubuh (Depdikbud, 1997:5).
Daya tahan
kardiovaskuler adalah kemampuan seseorang dalam mempergunakan sistem jantung,
pernapasan dan peredaran darahnya Dengan demikian untuk membina kesegaran
jasmani, kita harus memberi beban kepada sistem kardiorespiratori. Latihan yang
kita lakukan harus memberi beban kepada sistem jantung, peredaran darah dan
paru. Latihan semacam ini disebut latihan aerobic yaitu latihan yang
menggunakan udara dan dilakukan dalam waktu yang cukup lama. Tujuan utama
latihan aerobic adalah menggunakan oksigen sebanyak mungkin atau
memperbanyak jumlah oksigen yang dapat diproses oleh tubuh (Sudarno SP,
1992:64-65).
2. Daya tahan otot
Daya tahan otot
adalah kemampuan seseorang dalam mempergunakan suatu kelompok ototnya untuk
berkontraksi terus menerus dalam waktu relatif cukup lama dengan beban tertentu
(M. Sajoto, 1988:58).
Dengan demikian
daya tahan otot berarti kemampuan atau kapasitas sekelompok otot untuk
melakukan kontraksi yang beruntun atau berulang-ulang terhadap suatu beban
dalam jangka waktu tertentu. Jadi daya tahan otot merupakan kemampuan untuk
mengatasi kelelahan otot dan berkurang secara bertahap sesuai dengan
bertambahnya umur. Namun penurunan daya tahan otot tidak terjadi secepat
menurunnya kekuatan otot.
3. Kekuatan otot
Kekuatan otot
adalah tenaga/gaya atau tegangan yang dapat dihasilkan otot atau sekelompok
otot pada suatu kontraksi maksimal (Depdikbud, 1997:5).
Kekuatan otot merupakan
hal penting untuk setiap orang karena dapat mendukung dalam menyelesaikan
tugas-tugas. Penurunan kekuatan otot tidak hanya menganggu keseimbangan tubuh
dan aktivitas berjalan, tetapi juga berhubungan dengan peningkatan resiko
terjatuh.
4. Kelentukan
Kelentukan adalah
keefektifan seseorang dalam penyesuaian dirinya, untuk melakukan segala
aktivitas tubuh dengan penguluran seluas-luasnya, terutama otot-otot,
ligamen-ligamen disekitar persendian (M. Sajoto, 1988:58).
Jadi kelentukan
merupakan keleluasaan gerak tubuh pada persendian yang sangat dipengaruhi oleh
elastisitas otot, tendon dan ligamen sekitar sendi dan sendi itu
sendiri. Hubungan antara bentuk persendian umumnya tiap persendian mempunyai
kemungkinan gerak tertentu sebagai akibat struktur anatominya. Gerak yang
paling penting dalam kehidupan sehari-hari adalah fleksi batang tubuh.
Tetapi kelentukan yang baik pada tempat tersebut belum tentu ditempat lainpun
demikian (Moeloek, 1994:9).
Dengan demikian
kelentukan berarti bahwa tubuh dapat melakukan gerakan secara bebas. Tubuh yang
baik harus memiliki kelentukan yang baik pula. Hal ini dapat dicapai dengan
latihan jasmani terutama untuk penguluran dan kelentukan.
Faktor yang
mempengaruhi kelentukan adalah usia dan aktivitas fisik. Pada usia lanjut kelentukan
tubuh atau elastisitas otot berkurang akibat kurang latihan (aktivitas fisik),
sehingga alternatif yang terbaik untuk menghambat berkurangnya elastisitas otot
secara drastis adalah dengan latihan/ aktivitas fisik yang teratur.
5. Komposisi tubuh
Komposisi tubuh
digambarkan dengan berat badan tanpa lemak dan berat lemak. Berat badan tanpa
lemak terdiri atas massa otot (40-50%), tulang (16-18%) dan organ-organ tubuh
(29-39%). Berat lemak dinyatakan dalam persentasenya terhadap berat badan
total. Secara umum dapat dikatakan makin kecil persentase lemak, makin baik
kinerja seseorang (Depdikbud, 1997:6).
Jadi, komposisi
tubuh adalah susunan tubuh yang digambarkan sebagi dua unsur yaitu lemak tubuh
dan masa tubuh tanpa lemak.
6. Kecepatan gerak
Kecepatan gerak
adalah kemampuan untuk melaksanakan gerak-gerak yang sama atau tidak sama
secepat mungkin (Depdikbud, 1997:5).
7. Kelincahan
Kelincahan adalah
kemampuan seseorang dalam merubah arah, dalam posisi-posisi diarena tertentu
(M. Sajoto, 1988:59). Kelincahan adalah kemampuan mengubah secara cepat arah
tubuh/bagian tubuh tanpa gangguan pada keseimbangan (Depdikbud, 1997:6).
Jadi, kelincahan
merupakan kemampuan dari seseorang untuk merubah posisi dan arah secepat
mungkin sesuai dengan situasi yang dihadapi dan dikehendaki. Kelincahan tidak
hanya diperlukan dalam situasi kerja dan kegiatan rekreasi. Seseorang yang
mampu merubah suatu posisi yang berbeda dalam kecepatan tinggi dengan
koordinasi yang baik, berarti kelincahannya baik, kesegaran jasmani yang baik
tentunya juga didukung oleh kelincahannya yang baik pula. Kelincahan seseorang
dipengaruhi oleh usia, tipe tubuh, jenis kelamin, berat badan dan kelelahan
(Moeloek, 1994:9).
8. Keseimbangan
Keseimbangan adalah
kemampuan seseorang mengendalikan organ-organ syaraf ototnya, selama melakukan
gerak-gerak yang cepat dengan perubahan letak titik-titik berat badan yang
cepat pula, baik dalam keadaan statis maupun lebih-lebih dalam gerak dinamis
(M. Sajoto, 1988:58).
Keseimbangan
bergantung pada kemampuan integrasi antara kerja indera penglihatan, kanalis
semisirkularis pada telinga dan reseptor pada otot. Diperlukan tidak hanya pada
olahraga tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari (Moeloek, 1994:10).
Keseimbangan ini
penting dalam kehidupan maupun berolahraga, dimana tanpa keseimbangan orang
tidak dapat melakukan aktivitas dengan baik. Dengan bertambahnya umur
keseimbangan akan menurun sebagai akibat dari penurunan sruktur dan fungsi
organ keseimbangan.
9. Kecepatan reaksi
Kecepatan reaksi
adalah besaran waktu yang dibutuhkan untuk memberi jawaban gerak setelah
menerima suatu rangsangan (Depdikbud, 1997:6).
Kecepatan reaksi
adalah waktu tersingkat yang dibutuhkan untuk memberi jawaban kinetis setelah
menerima rangsang. Hal ini erat kaitannya dengan waktu refleks, waktu gerakan dan waktu respon. Faktor yang
mempengaruhi kecepatan reaksi antara lain: usia, jenis kelamin, kesiapan,
intensitas stimulus, latihan, diet, dan kelelahan (Moeloek, 1994:10-11).
10. Koordinasi
Koordinasi adalah
kemampuan seseorang dalam mengintegrasikan gerakan yang berbeda ke dalam suatu
pola gerakan tunggal secara efektif (M. Sajoto, 1988:59).
C. Fungsi dan Manfaat
Kesegaran Jasmani
1.
Fungsi kesegaran jasmani
Fungsi dari
kesegaran jasmani adalah untuk mengembangkan kemampuan, kesanggupan daya kreasi
dan daya tahan dari setiap manusia yang berguna untuk mempertinggi daya kerja
(Kamiso, 1991:63).
Jadi, daya kerja
seseorang dapat ditingkatkan dengan cara meningkatkan kesegaran jasmani.
Kesegaran jasmani dapat ditingkatkan dengan meningkatkan keseimbangan antara
latihan-latihan yang dilakukan dengan reaksi-reaksi atas organ-organ tubuh
(antara ergosistem primer dan sekunder).
2.
Manfaat kesegaran jasmani
Latihan-latihan
kesegaran jasmani yang dilakukan secara tepat dan benar akan memberikan manfaat
bagi tubuh, yaitu:
a.
Memperkuat sendi-sendi dan ligamen.
b.
Meningkatkan kemampuan jantung
dan paru-paru (ketahanan kardiorespirasi).
c.
Memperkuat otot tubuh.
d.
Menurunkan tekanan darah.
e.
Mengurangi lemak tubuh.
f.
Memperbaiki bentuk tubuh.
g.
Mengurangi kadar gula.
h.
Mengurangi resiko terkena
penyakit jantung koroner.
i.
Memeperlancar pertukaran gas
(Depdikbud, 1997:2).
Selain mempunyai
manfaat biologis seperti tersebut di atas, latihan kesegaran jasmani juga
mempunyai manfaat lainnya, yaitu:
a.
Secara Psikologis adalah
mengendurkan ketegangan mental, suasana hati tenang, nyaman dan rasa terhibur.
b.
Secara Sosial adalah
Persahabatan dengan orang lain meningkat dalam kualitas dan kuantitas serta
menghargai lingkungan hidup dan alam sekitar.
c.
Secara Kultural adalah
kebiasaan hidup sehat, teratur dan terencana, melestarikan nilai-nilai budaya
yang berkaitan dengan jenis latihan kesegaran jasmani (Depdikbud, 1997:3).
3.
Sasaran dan tujuan kesegaran jasmani
Sasaran dan tujuan
kesegaran jasmani akan selalu tergantung dengan obyek yang dituju. Sedangkan
obyek yang dituju adalah:
a.
Golongan yang dihubungkan
dengan pekerjaan.
1)
Kesegaran jasmani bagi
olahragawan untuk meningkatkan prestasi para atlet.
2)
Kesegaran jasmani bagi karyawan
untuk meningkatkan hasil efisiensi dan produktifitas.
3)
Kesegaran jasmani bagi para
pelajar dan mahasiswa untuk mempertinggi kemampuan aktivitas gerak dan
kemampuan belajar.
b.
Golongan yang dihubungkan
dengan keadaan.
1)
Kesegaran jasmani bagi
penderita cacat dan rehabilitasi.
2)
Kesegaran jasmani bagi ibu
hamil untuk perkembangan bayi dalam kendungan dan untuk memperisapkan diri
menghadapi kelahiran.
c.
Golongan yang dihubungkan
dengan usia.
1)
Kesegaran jasmani bagi
anak-anak menjamin perkembangan pertumbuhan.
2)
Kesegaran jasmani bagi orang
tua untuk mempertahankan kondisi fisik terhadap serangan suatu penyakit (Kosasih,
1993:10).
D. Tes Kesegaran Jasmani
Indonesia
Tes kesegaran
jasmani adalah suatu tes yang akan mengukur kemampuan fisik seseorang dalam
melakukan suatu aktifitas yang telah ditentukan (Nurhasan, 2001:154). Kesegaran
jasmani bersifat spesifik artinya kebutuhan derajat kesegaran jasmani pelari
marathon berbeda dengan kebutuhan kesegaran jasmani pelari jarak pendek.
Kebutuhan kesegaran jasmani antara atlet angkat berat/ besi berbeda dengan
kebutuhan kesegaran jasmani atlet bulutangkis.
Pengukuran
kesegaran jasmani tertuju pada pengukuran aspek-aspeknya. Terdapat dua aspek
kesegaran jasmani, yaitu: 1) kesegaran jasmani yang berhubungan dengan
kesehatan, meliputi (a) daya tahan jantung dan paru-paru, (b) kekuatan otot,
(c) daya tahan otot, (d) fleksibilitas, dan (e) komposisi tubuh; 2) kesegaran
jasmani yang berhubungan dengan keterampilan, mencakup (a) kecepatan, (b) power, (c) keseimbangan, (d) kelincahan,
(e) koordinasi, dan (f) kecepatan reaksi (Nurhasan, 2001:133).
Mengacu kepada
batasan mengenai kesegaran jasmani dan pendapat para pakar mengenai unsur-unsur
yang terdapat dalam kebugaran jasmani, maka dapat dikemukakan bahwa unsur yang
terdapat dalam lingkup kebugaran jasmani, meliputi: 1) kekuatan, 2) daya ledak,
3) kecepatan, 4) kelenturan, 5) daya tahan otot, dan 6) daya tahan
kardio-respiratori (Nurhasan, 2001:134).
Dalam lingkup
pendidikan, menurut Nurhasan (2001:134) fungsi tes kebugaran jasmani dalam
program pengajaran Penjaskes, meliputi:
1.
Mengukur kemampuan fisik siswa.
2.
Menentukan status kondisi fisik
siswa.
3.
Menilai kemampuan fisik siswa,
sebagai satu tujuan pengajaran Penjaskes.
4.
Mengetahui perkembangan
kemampuan fisik siswa.
5.
Sebagai bahan untuk memberikan
bimbingan dalam meningkatkan kebugaran jasmani siswa.
6.
Sebagai salah satu masukan
dalam memberikan nilai pelajaran Penjaskes.
Menurut Nurhasan
(2001:135), tes kesegaran jasmani Indonesia terdiri dari 5 butir tes, dengan
rangkaian tesnya yaitu: 1) lari cepat, 2) angkat tubuh, 3) baring duduk, 4)
loncat tegak, dan 5) lari jauh. Tes kesegaran jasmani Indonesia dikelompokkan
berdasarkan tingkatan sekolah, yaitu:
1.
Tingkat Sekolah Dasar
Dalam proses
pengukuran kesegaran jasmani tingkat Sekolah Dasar dibagi menjadi dua kelompok,
yaitu:
a.
Kelompok tingkat Sekolah Dasar
kelas 1, 2 dan 3
Adapun bentuk tes
kesegaran jasmani yang diberikan meliputi 5 butir tes (Nurhasan, 2001:135),
yaitu
a.
Tes lari cepat 30 meter
b.
Tes angkat tubuh 30 detik
c.
Tes baring duduk 30 detik
d.
Tes loncat tegak
e.
Tes lari 600 meter
b.
Kelompok tingkat Sekolah Dasar
kelas 4, 5 dan 6
Adapun bentuk tes
kesegaran jasmani yang diberikan meliputi 5 butir tes (Nurhasan, 2001:148-149),
yaitu
a.
Tes lari cepat 40 meter
b.
Tes angkat tubuh 30 detik
c.
Tes baring duduk 30 detik
d.
Tes loncat tegak
e.
Tes lari 600 meter
2.
Tingkat Sekolah Menengah Pertama
Adapun bentuk tes
kesegaran jasmani yang diberikan meliputi 5 butir tes (Nurhasan, 2001:149-150),
yaitu
a.
Tes lari cepat 50 meter
b.
Tes angkat tubuh (30 detik
untuk putri; 60 detik untuk putra)
c.
Tes baring duduk 60 detik
d.
Tes loncat tegak
e.
Tes lari jauh (800 meter untuk
putri; 1000 meter untuk putra)
3.
Tingkat Sekolah Menengah Atas
Adapun bentuk tes
kesegaran jasmani yang diberikan meliputi 5 butir tes (Nurhasan, 2001:150-151),
yaitu
a.
Tes lari cepat 50 meter
b.
Tes angkat tubuh (30 detik
untuk putri; 60 detik untuk putra)
c.
Tes baring duduk 60 detik
d.
Tes loncat tegak
e.
Tes lari jauh (1000 meter untuk
putri; 1200 meter untuk putra)
4.
Uraian pelaksanaan tes kesegaran jasmani Indonesia
a. Tes lari cepat
1) Alat dan fasilitas
a) Lintasan lurus, rata dan tidak licin; jarak
lintasan disesuaikan dengan kelompok atau tingkat sekolah
b) Peluit
c) Stopwatch
d) Bendera start dan tiang pancang
e) Formulir pencatat hasil tes
2) Pelaksanaan
a) Testee berdiri di belakang garis start dengan
sikap start berdiri. Pada aba-aba ‘Ya’, stopwatch dijalankan dan testee berlari
ke depan secepat mungkin menuju garis finish. Pada saat testee menyentuh/
melewati garis finish, maka stopwatch pun dihentikan.
b) Kesempatan tes harus diulang bilamana: 1)
pelari mencuri start dan berlari di luar lintasan, 2) pelari terganggu oleh
pelari lainnya.
3) Skor
Skor hasil tes yaitu waktu yang dicapai oleh pelari
untuk menempuh jarak tertentu (sesuai dengan kelompok atau tingkat sekolah).
Waktu dicatat sampai persepuluh detik.
b. Tes angkat tubuh
1) Alat dan fasilitas
a) Lantai yang rata dan bersih
b) Palang tunggal, yang tinggi rendahnya dapat
diatur, sehingga testee dapat bergantung
c) Stopwatch
d) Formulir pencatat hasil tes
2) Pelaksanaan
a) Testee bergantung pada palang tunggal,
sehingga kepala, badan dan tungkai lurus. Kedua lengan dibuka selebar bahu dan
keduanya lurus.
b) Testee mengangkat tubuhnya, dengan
membengkokkan kedua lengan, sehingga dagu menyentuh atau melewati palang
tunggal, kemudian kembali ke sikap semula. Lakukan gerakan tersebut secara
berulang-ulang, tanpa istirahat selama waktu yang ditentukan.
3) Skor
Skor hasil tes yaitu jumlah gerakan angkat tubuh pada
palang tunggal yang mampu dilakukan testee selama waktu yang ditentukan.
c. Tes baring duduk
1) Alat dan fasilitas
a) Lantai/ lapangan rumput yang bersih
b) Stopwatch
c) Formulir pencatat hasil tes
2) Pelaksanaan
a) Testee berbaring terlentang di atas lantai/
rumput. Kedua lutut ditekuk ± 900. Kedua tangan dilipat dan
diletakkan di belakang kepala, dengan jari tangan saling berkaitan dan kedua
tangan menyentuh lantai. Salah seorang teman testee membantu memegang dan
menekan kedua pergelangan kaki, agar kaki testee tidak terangkat. Pada aba-aba
‘Ya’, testee bergerak mengambil sikap duduk, sehingga kedua sikunya menyentuh
paha, kemudian kembali ke sikap semula. Lakukan gerakan itu berulang-ulang
cepat tanpa istirahat selama waktu yang ditentukan.
b) Gerakan baring duduk gagal, bilamana: 1)
kedua lengan testee terlepas, sehingga jari-jarinya tidak terjalin, 2) kedua
tungkai testee ditekuk dengan sudut lebih dari 900, 3) kedua siku
testee tidak menyentuh paha.
3) Skor
Skor hasil tes yaitu jumlah gerakan baring duduk yang
mampu dilakukan testee dengan benar selama waktu yang ditentukan.
d. Tes loncat tegak
1) Alat dan fasilitas
a) Dinding yang rata dan lantai yang rata dan
cukup luas
b) Papan berwarna gelap ukuran 30x150 cm,
berskala satuan sentimeter, digantung pada dinding. Tinggi jarak antara lantai
dengan angka 0 (nol) pada papan berskala ukuran 150 cm.
c) Serbuk kapur dan alat penghapus
d) Formulir pencatat hasil tes
2) Pelaksanaan
Testee berdiri tegak dekat dinding,
bertumpu pada kedua kaki, dan papan dinding berada di samping tangan kiri atau
kanannya. Kemudian, tangan yang berada dekat dinding diangkat lurus ke atas
telapak tangan, ditempelkan pada papan berskala, sehingga meninggalkan bekas
raihan jarinya. Kedua tangan lurus berada di samping telinga. Kemudian testee
mengambil sikap awalan dengan membengkokkan kedua lutut, lalu testee meloncat
setinggi mungkin sambil menepuk papan berskala dengan tangan yang terdekat
dengan dinding, sehingga meninggalkan bekas raihan pada papan berskala. Tanda
ini menampilkan tinggi raihan loncatan testee. Testee diberi kesempatan
melakukan sebanyak 3 kali loncatan.
3) Skor
Ambil tinggi raihan yang tertinggi dari ketiga loncatan
tersebut, sebagai hasil tes loncat tegak. Hasil loncat tegak diperoleh dengan
cara hasil raihan tertinggi dari ketiga loncatan tersebut dikurangi tinggi
raihan tanpa loncatan.
e. Tes lari jauh
1) Alat dan fasilitas
a) Lapangan yang rata
b) Peluit
c) Stopwatch
d) Bendera start dan tiang pancang
e) Nomor dada
f) Formulir pencatat hasil tes
2) Pelaksanaan
Testee berdiri di belakang garis start.
Pada aba-aba ‘Siap’, testee mengambil sikap start berdiri. Pada aba-aba ‘Ya’,
stopwatch dijalankan dan testee lari secepat mungkin menuju garis finish. Pada
saat testee menyentuh/ melewati garis finish, stopwatch dihentikan. Bila ada
testee yang mencuri start, maka testee tersebut dapat mengulangi tes tersebut.
3) Skor
Skor hasil tes yaitu waktu yang dicapai oleh pelari
untuk menempuh jarak tertentu (sesuai dengan kelompok atau tingkat sekolah).
Waktu dicatat sampai persepuluh detik.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Jenis pendekatan
yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi survei. Menurut Arikunto
(2002:90), studi survei adalah salah satu pendekatan penelitian yang pada
umumnya digunakan untuk pengumpulan data yang luas dan banyak.
Van Dalen
(Arikunto, 2002:90-91) mengemukakan bahwa survei merupakan bagian dari studi
deskriptif yang bertujuan untuk mencari kedudukan (status) fenomena (gejala)
dan menentukan kesamaan status dengan cara membandingkannya dengan standar yang
sudah ditentukan.
Dalam penelitian
ini, peneliti ingin mengetahui status kesegaran jasmani siswa melalui tes
kesegaran jasmani sesuai prosedur pelaksanaan tes yang digunakan. Penentuan
statusnya adalah dengan membandingkan hasil tes kesegaran jasmani dengan
standar atau norma penilaian tes kesegaran jasmani yang ada.
B. Populasi dan Sampel
1.
Populasi
Populasi adalah
keseluruhan subyek penelitian (Arikunto, 2002:108). Apabila seseorang ingin
meneliti semua elemen yang ada dalam wilayah penelitian, maka penelitiannya
merupakan penelitian populasi. Studi atau penelitiannya juga disebut studi
populasi atau studi sensus.
Dalam penelitian
ini, populasi yang digunakan adalah seluruh siswa kelas VIII SMP Kertanegara Malang Tahun Pelajaran 2011/2012.
Kelas VIII terbagi menjadi 2 kelompok/ kelas belajar, yaitu kelas VIIIA
dan VIIIB. Adapun jumlah seluruh siswa kelas VIII tercantum dalam
tabel berikut.
Tabel 3.1 Data Jumlah Siswa Kelas VIII
|
Kelas
|
Jumlah
|
Total
|
|
|
Putra
|
Putri
|
||
|
VIIIA
|
14
|
18
|
32
|
|
VIIIB
|
13
|
17
|
30
|
|
Jumlah
|
27
|
35
|
62
|
Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa jumlah seluruh siswa kelas VIII
SMP Kertanegara Malang Tahun Pelajaran 2011/2012 adalah 62 siswa.
2.
Sampel
Sampel adalah
contoh atau wakil dari populasi yang cukup besar jumlahnya dengan tujuan untuk
memperoleh keterangan mengenai obyeknya dengan jalan hanya mengamati sebagian
saja dari populasi (Kartono, 1996:115). Sedangkan Arikunto (2002:109)
mendefinisikan sampel, yaitu “sebagian atau wakil dari populasi yang diteliti”.
Lebih lanjut,
Arikunto (2002:112) menerangkan bahwa untuk sekedar ancer-ancer, jika subyeknya
kurang dari 100 lebih baik diambil semua sehingga penelitiannya merupakan
penelitian populasi. Jika jumlah subyeknya besar maka dapat diambil 10-15% atau
20-25% atau lebih.
Merujuk pada
pendapat Arikunto di atas, oleh karena populasi penelitian ini berjumlah kurang
dari 100 siswa, maka jumlah sampelnya diambil dari seluruh populasi, yaitu 62 siswa kelas VIII SMP Kertanegara Malang
Tahun Pelajaran 2011/2012.
Sementara itu,
dalam proses pengumpulan data, sampel atau subyek dipisahkan, yaitu antara
siswa putra dan putri. Alasannya adalah karena kemampuan atau kondisi fisik
antara siswa putra dan putri adalah berbeda.
C. Teknik Pengumpulan Data
Prosedur
pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu tes performance, berupa pelaksanaan tes
Kesegaran Jasmani Indonesia untuk tingkat SLTP sesuai dengan prosedur
pelaksanaan tes menurut Nurhasan (2001:149-150). Pada tahap pelaksanaan tes,
peneliti menyediakan sarana dan prasarana tes yang ada. Kemudian peneliti
memberikan penjelasan yang berhubungan dengan tujuan, maksud, dan manfaat dari
tes yang akan diberikan dan dilaksanakan oleh siswa, sekaligus memberikan
semangat atau motivasi agar siswa dapat
melaksanakan tes dengan sungguh-sungguh sesuai prosedur yang telah ditetapkan.
Adapun prosedur
pelaksanaan tes untuk masing-masing butir tes Kesegaran Jasmani Indonesia
tingkat SLTP (Nurhasan, 2001:149-150) adalah, sebagai berikut:
1. Tes lari cepat 50 meter
a.
Tujuan tes lari cepat 50 meter,
yaitu untuk mengukur kecepatan lari seseorang (Nurhasan, 2001:136)
b.
Alat/ fasilitas
1)
Lintasan lurus, rata dan tidak
licin; jarak lintasan adalah 50 meter
2)
Peluit
3)
Stopwatch
4)
Bendera start dan tiang pancang
5)
Formulir pencatat hasil tes
c.
Pelaksanaan
1)
Testee berdiri di belakang
garis start dengan sikap start berdiri. Pada aba-aba ‘Ya’, stopwatch dijalankan
dan testee lari ke depan secepat mungkin untuk menempuh jarak 50 meter. Pada
saat testee menyentuh/ melewati garis finish, stopwatch dihentikan.
2)
Kesempatan tes harus diulang
jika:
1)
Pelari mencuri start dan
berlari di luar lintasan
2)
Pelari terganggu oleh pelari
lainnya
d.
Skor
Skor hasil tes yaitu waktu yang dicapai
oleh pelari untuk menempuh jarak 50 meter. Waktu dicatat sampai persepuluh
detik.
2. Tes angkat tubuh (30 detik
untuk putri; 60 detik untuk putra)
a.
Tujuan tes angkat tubuh, yaitu
untuk mengukur kekuatan dan daya tahan otot lengan dan bahu (Nurhasan,
2001:137)
b.
Alat/ fasilitas
1)
Lantai yang rata dan bersih
2)
Palang tunggal, yang tinggi
rendahnya dapat diatur, sehingga testee dapat bergantung
3)
Stopwatch
4)
Formulir pencatat hasil tes
c.
Pelaksanaan
1)
Testee bergantung pada palang
tunggal, sehingga kepala, badan dan tungkai lurus. Kedua lengan dibuka selebar
bahu dan keduanya lurus.
2)
Kemudian testee mengangkat
tubuhnya, dengan membengkokkan kedua lengan, sehingga dagu menyentuh atau
melewati palang tunggal, kemudian kembali ke sikap semula. Lakukan gerakan
tersebut secara berulang-ulang, tanpa istirahat selama waktu yang ditentukan.
d.
Skor
Skor hasil tes yaitu jumlah gerakan
angkat tubuh pada palang tunggal yang mampu dilakukan testee selama waktu yang
ditentukan.
3. Tes baring duduk 60 detik
a.
Tujuan tes baring duduk, yaitu
untuk mengukur kekuatan dan daya tahan otot perut (Nurhasan, 2001:141)
b.
Alat/ fasilitas
1)
Lantai/ lapangan rumput yang
bersih
2)
Stopwatch
3)
Formulir pencatat hasil tes
c.
Pelaksanaan
1)
Testee berbaring terlentang di
atas lantai/ rumput. Kedua lutut ditekuk ± 900. Kedua tangan dilipat
dan diletakkan di belakang kepala, dengan jari tangan saling berkaitan dan
kedua tangan menyentuh lantai. Salah seorang teman testee membantu memegang dan
menekan kedua pergelangan kaki, agar kaki testee tidak terangkat. Pada aba-aba
‘Ya’, testee bergerak mengambil sikap duduk, sehingga kedua sikunya menyentuh
paha, kemudian kembali ke sikap semula. Lakukan gerakan itu berulang-ulang
cepat tanpa istirahat selama 60 detik.
2)
Gerakan baring duduk gagal,
bilamana:
a)
Kedua lengan testee terlepas,
sehingga jari-jarinya tidak terjalin
b)
Kedua tungkai testee
ditekuk dengan sudut lebih dari 900
c)
Kedua siku testee tidak
menyentuh paha
d.
Skor
Skor hasil tes yaitu jumlah gerakan
baring duduk yang mampu dilakukan testee dengan benar selama 60 detik.
4. Tes loncat tegak
a.
Tujuan tes loncat tegak, yaitu
untuk mengukur daya ledak (power) otot tungkai (Nurhasan, 2001:144)
b.
Alat/ fasilitas
1)
Dinding yang rata dan lantai
yang rata dan cukup luas.
2)
Papan berwarna gelap ukuran
30x150 cm, berskala satuan ukuran sentimeter, digantung pada dinding, dengan
ketinggian jarak antara lantai dengan angka 0 (nol) pada papan berskala ukuran
150 cm.
3)
Serbuk kapur dan alat
penghapus.
4)
Formulir pencatat hasil tes.
c.
Pelaksanaan
Testee berdiri tegak dekat dinding,
bertumpu pada kedua kaki, dan papan dinding berada di samping tangan kiri atau
kanannya. Kemudian, tangan yang berada dekat dinding diangkat lurus ke atas
telapak tangan, ditempelkan pada papan berskala, sehingga meninggalkan bekas
raihan jarinya. Kedua tangan lurus berada di samping telinga. Kemudian testee
mengambil sikap awalan dengan membengkokkan kedua lutut, lalu testee meloncat
setinggi mungkin sambil menepuk papan berskala dengan tangan yang terdekat
dengan dinding, sehingga meninggalkan bekas raihan pada papan berskala. Tanda
ini menampilkan tinggi raihan loncatan testee. Testee diberi kesempatan
melakukan sebanyak 3 kali loncatan.
d.
Skor
Ambil tinggi raihan yang tertinggi dari
ketiga loncatan tersebut, sebagai hasil tes loncat tegak. Hasil loncat tegak
diperoleh dengan cara hasil raihan tertinggi dari ketiga loncatan tersebut
dikurangi tinggi raihan tanpa loncatan.
5. Tes lari jauh (1000 meter
untuk putri; 1200 meter untuk putra)
a.
Tujuan tes lari jauh, yaitu
untuk mengukur daya tahan kardiorespiratori (Nurhasan, 2001:147)
b.
Alat/ fasilitas
1)
Lapangan yang rata atau
lintasan yang telah diketahui panjangnya sehingga mudah untuk menentukan jarak
1000 atau 1200 meter
2)
Peluit
3)
Stopwatch
4)
Bendera start dan tiang pancang
5)
Nomor dada
6)
Formulir pencatat hasil tes
c.
Pelaksanaan
Testee berdiri di belakang garis start.
Pada aba-aba ‘Siap’, testee mengambil sikap start berdiri. Pada aba-aba ‘Ya’,
stopwatch dijalankan dan testee lari secepat mungkin menuju garis finish. Pada
saat testee menyentuh/ melewati garis finish, stopwatch dihentikan. Bila ada
testee yang mencuri start, maka testee tersebut dapat mengulangi tes tersebut.
d.
Skor
Skor hasil tes yaitu waktu yang dicapai
oleh pelari untuk menempuh jarak 1000 meter (putri) atau 1200 meter (putra).
Waktu dicatat sampai persepuluh detik.
D. Teknik Analisis Data
Data penelitian
yang terkumpul adalah data kuantitatif, karena datanya berupa angka-angka.
Dengan demikian digunakan teknik statistik dalam proses penganalisaan data
penelitian. Namun demikian, karena standar atau norma penilaian tes Kesegaran
Jasmani Indonesia telah ditentukan, maka untuk mengetahui status kesegaran
jasmani siswa, peneliti menganalisa data dengan teknik analisis persentase (%).
Hasil analisis
persentase (%) tersebut berupa kategori, yaitu Baik Sekali, Baik, Cukup,
Kurang, dan Sangat Kurang.
Adapun selengkapnya
mengenai langkah-langkah dalam penganalisaan data penelitian adalah, sebagai
berikut:
1.
Menentukan nilai mean/ rata-rata tes
Analisis nilai
mean/ rata-rata digunakan untuk mengetahui rata-rata pencapaian hasil tes untuk
tiap butir tes serta menentukan rata-rata status kesegaran jasmani siswa.
Adapun rumus yang digunakan, sebagai berikut:

di mana;
M : Mean/
rata-rata
∑x : Jumlah
skor hasil tes
N : Jumlah
seluruh siswa
2.
Menghitung persentase (%) hasil tes
Analisis persentase
(%) digunakan untuk mengetahui besaran pencapaian hasil tes dan status
kesegaran jasmani siswa dalam bentuk %. Adapun rumus yang digunakan, sebagai
berikut:

di mana;
P : Persentase
(%)
F : Frekuensi
siswa (menurut kategori hasil tes)
N : Jumlah
seluruh siswa
3.
Menentukan status kesegaran jasmani siswa
Penentuan status
kesegaran jasmani siswa adalah dengan cara membandingkan hasil tes kesegaran
jasmani siswa dengan norma penilaian tes Kesegaran Jasmani Indonesia. Adapun
norma penilaian tes Kesegaran Jasmani Indonesia menurut Depdikbud (1995)
adalah:
Tabel 3.2 Norma Penilaian Tes Kesegaran
Jasmani Indonesia untuk SLTP
|
Butir Tes 1
|
Butir Tes 2
|
Butir Tes 3
|
Butir Tes 4
|
Butir Tes 5
|
Nilai
|
|||||
|
Putra
(detik)
|
Putri (detik)
|
Putra
|
Putri
|
Putra
|
Putri
|
Putra (cm)
|
Putri (cm)
|
Putra
(detik)
|
Putri (detik)
|
|
|
<6,8
|
<7,4
|
>18
|
>14
|
>24
|
>20
|
>49
|
>45
|
<8,15
|
<10,15
|
5
|
|
6,8–7,3
|
8,5–7,4
|
14–18
|
11–14
|
19–24
|
16–20
|
43–49
|
38–45
|
8,15–10
|
10,15–12
|
4
|
|
7,4–8,1
|
9,7–8,6
|
9–13
|
7–10
|
13–18
|
11–15
|
36–42
|
31–37
|
10,01–12,3
|
12,01–14,3
|
3
|
|
8,2–9,2
|
10,9–9,8
|
4–8
|
3–6
|
7–12
|
5–10
|
29–35
|
24–30
|
12,31–14,3
|
14,31–16,3
|
2
|
|
>9,2
|
>10,9
|
<4
|
<3
|
<7
|
<5
|
<29
|
<24
|
>14,3
|
>16,3
|
1
|
Keterangan:
a.
Butir tes 1 adalah tes lari
cepat 50 meter
b.
Butir tes 2 adalah tes angkat
tubuh (30 detik untuk putri; 60 detik untuk putra)
c.
Butir tes 3 adalah tes baring
duduk 60 detik
d.
Butir tes 4 adalah tes loncat
tegak
e.
Butir tes 5 adalah tes lari
jauh (800 meter untuk putri; 1000 meter untuk putra)
Berdasarkan norma
penilaian tes di atas, maka diketahui nilai tertinggi hasil tes pada tiap butir
tes adalah 5 dan terendah adalah 1. Sedangkan total nilai hasil tes untuk
seluruh butir tes adalah 25 (tertinggi) dan 5 (terendah). Dari analisis
penilaian tes tersebut, maka dapat disusun kategori penentuan status kesegaran
jasmani siswa, sebagai berikut:
Tabel 3.3 Status Kesegaran Jasmani Siswa
|
Nilai Akhir
|
Status Kesegaran Jasmani
|
|
21 – 25
|
Baik Sekali
|
|
16 – 20
|
Baik
|
|
11 – 15
|
Cukup
|
|
6 – 10
|
Kurang
|
|
1 – 5
|
Sangat Kurang
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar