Sabtu, 12 Oktober 2013

Sekripsi Bola Voly




BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Pendidikan jasmani dan olahraga merupakan sebuah investasi jangka panjang dalam upaya pembinaan mutu sumber daya manusia Indonesia, meskipun hasil yang diharapkan itu akan dicapai setelah masa yang cukup lama. Oleh karena itu upaya pembinaan warga masyarakat dan peserta didik melalui pendidikan jasmani dan olahraga membutuhkan kesabaran dan keikhlasan untuk berkorban. Sebagai upaya pembinaan mutu sumber daya manusia, pendidikan jasmani dan olahraga di lembaga pendidikan formal dapat berkembang lebih pesat agar mampu menjadi landasan bagi pembinaan keolahragaan nasional. Proses pembentukan sikap dan pembangkitan motivasi harus dimulai pada usia dini. Oleh sebab itu pendidikan jasmani dan olahraga yang di sekolah-sekolah formal disebut pendidikan jasmani dan kesehatan (penjaskes) sudah diberikan sejak seorang siswa berada di bangku sekolah Taman Kanak-kanak, Sekolah Dasar sampai dengan Perguruan Tinggi.
Olahraga merupakan salah satu bentuk dari upaya peningkatan kualitas manusia Indonesia yang diarahkan pada pembentukan watak dan kepribadian, disiplin dan sportifitas yang tinggi, serta peningkatan prestasi yang dapat membangkitkan rasa kebanggaan nasional (GBHN Tap MPR No. II/MPR/1993). Di samping itu, kebiasaan seseorang untuk melakukan kegiatan olahraga dapat memberikan dampak pada kesegaran jasmani dan rohaninya sehingga menjadi lebih bugar dan sehat.
Seseorang yang mempunyai kesegaran jasmani yang tinggi akan dapat melakukan pekerjaannya dengan baik dan tanpa melakukan kelelahan yang beearti, serta tubuhnya segar ketika berhenti bekerja atau beristirahat. Tentunya dengan mental yang semakin segar pula. Sebaliknya, tingkat kesegaran jasmani yang rendah akan merupakan kendala dalam pelaksanaan pekerjaan, oleh karena tuntutan pekerjaan yang meminta aktifitas jasmani tidak dapat terpenuhi, dan ini sudah barang tentu akan berpengaruh dengan tingkat produktifitas kerjanya.
Istilah kesegaran jasmani berasal dari hasil seminar nasional kesegaran jasmani tanggal 16 Maret sampai dengan 20 Maret 1971 di Jakarta, dengan pertimbangan bahwa istilah tersebut telah umum dipergunakan di Indonesia sebelum diselenggarakan seminar nasional. Banyak istilah yang diajukan untuk mengistilahkan kesegaran jasmani misalnya Samapta jasmani oleh POLRI, Kebugaran Jasmani menurut Soedijatmo Somowerdojo, Kemampuan Jasmani oleh Radioputro yang kesemuanya adalah terjemahan dari istilah physical fitness. Menurut Lawren dan Ronald istilah physical fitness dapat disamakan dengan istilah organic fitness atau physiological fitness (Rusli Lutan dan Adang Suherman, 1999)
Menurut hasil seminar nasional dinyatakan bahwa seseorang yang memiliki kesegaran jasmani dapat diartikan sebagai orang yang mempunyai kesanggupan dan kemampuan untuk melakukan pekerjaannya dengan efisien tanpa menimbulkan kelelahan yang berarti.
Kesegaran jasmani ada yang berhubungan erat dengan kesehatan, ada pula yang berhubungan erat dengan keterampilan. Kesegaran jasmani yang berhubungan dengan kesehatan meliputi: 1) kesegaran cardiovasculer atau cardiovasculer fitness, 2) kesegaran kekuatan otot atau strenght fitness, 3) kesegaran keseimbangan tubuh atau body composition atau body weight fitness, 4) kesegaran kelentukan atau fleksibility fitness (M. Sajoto, 1988:43).
Sedangkan kesegaran jasmani yang berhubungan dengan keterampilan atau skill meliputi: 1) koordinasi atau coordination, 2) daya tahan atau endurance, 3) kecepatan atau speed, 4) kelincahan atau agility, 5) daya ledak atau power (M. Sajoto, 1988:43-44).
Sesuai dengan uraian tersebut jelaslah bahwa kesegaran jasmani sangat penting bagi seseorang guna menjalankan aktifitas dalam kehidupan sehari-hari. Orang yang memiliki kesegaran jasmani yang baik tidak akan mudah mengalami rasa capek dan dapat lebih berkosentrasi dalam menyelesaikan suatu pekerjaan serta memiliki daya tahan yang lebih baik terhadap penyakit. Di samping itu, kebutuhan akan istirahat untuk mengembalikan kondisi semula, lebih singkat dibandingkan dengan orang yang kondisi kesegaran jasmaninya kurang baik. Tentunya hal ini sangat menunjang dalam proses penyelesaian pekerjaan sehari-hari.
Bertolak dari latar belakang tersebut maka penulis tertarik untuk meneliti status kesegaran jasmani siswa Kelas VIII SMP Kertanegara Malang Tahun Pelajaran 2011/2012. Faktor yang mendukung penelitian ini adalah karena menurut informasi yang peneliti dapatkan dari guru Penjaskes kelas VIII SMP Kertanegara Malang, status kesegaran jasmani siswa kelas VIII belum pernah diteliti oleh peneliti terdahulu. Harapannya adalah dengan diadakannya penelitian ilmiah, maka guru dapat menyusun program pengembangan kesegaran jasmani siswa menjadi lebih baik lagi. Oleh karena itu,peneliti terdorong untuk meneliti mengenai “Profil Kesegaran Jasmani Siswa-siswi Kelas VIII SMP Kertanegara Malang Tahun Pelajaran 2011/2012”.

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah, sebagai berikut:
1.      Bagaimana profil kesegaran jasmani siswa - Siswi kelas VIII SMP Kertanegara Malang Tahun Pelajaran 2011/2012?

C.    Tujuan Penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah di atas, maka tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah, sebagai berikut:
1.      Untuk mengetahui profil kesegaran jasmani siswa – Siswi kelas VIII SMP Kertanegara Malang Tahun Pelajaran 2011/2012 .

D.    Manfaat Penelitian
1.      Bagi guru
a.       Sebagai bahan informasi tentang profil kesegaran jasmani siswa-siswi kelas VIII SMP Kertanegara Malang Tahun Pelajaran 2011/2012.
b.      Sebagai bahan pertimbangan dalam rangka meningkatkan kesegaran jasmani siswa, misalnya melalui periodisasi pelaksanaan program latihan fisik.

2.      Bagi lembaga
a.       Sebagai bahan kepustakaan bagi peneliti lain yang meneliti tentang masalah serupa.
b.      Sebagai bahan bacaan bagi mahasiswa, khususnya jurusan Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi, untuk memperkaya pengetahuan di bidang olahraga.
3.      Bagi peneliti
a.       Sebagai pengalaman bagi peneliti dalam ilmu olahraga.
b.      Sebagai dasar penelitian yang serupa di kemudian hari.
c.       Sebagai bahan akhir bagi peneliti dalam menyelesaikan tugas akhir guna memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi.

E.     Asumsi Penelitian
Agar penelitian bisa terarah, maka penulis memberikan asumsi, sebagai berikut:
1.      Setiap siswa telah mengenal dan mampu melakukan tes Kesegaran Jasmani Indonesia, karena telah mendapatkan pelajaran berupa teori dan praktek dari guru Penjaskes di sekolah.
2.      Tingkat kesegaran jasmani siswa hampir sama.
3.      Rata-rata usia siswa tidak jauh berbeda.
4.      Sarana dan prasarana penelitian tersedia dan memadai atau layak untuk digunakan.

F.     Definisi Istilah
1.      Profil
Profil adalah: 1) sebuah pandangan dari samping (tentang wajah seseorang), 2) lukisan gambar dari samping tentang sketsa biografis, 3) grafik atau ikhtisar yang memberikan fakta tentang hal-hal khusus (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2002:897).
Profil yang dimaksud dalam penelitian ini adalah pengetahuan tentang tingkat kesegaran jasmani siswa-siswi kelas VIII SMP Kertanegara Malang Tahun Pelajaran 2011/2012 berdasarkan hasil tes Kesegaran Jasmani Indonesia.
2.      Kesegaran jasmani
Kesegaran jasmani adalah kemampuan tubuh seseorang untuk melakukan tugas atau pekerjaan sehari-hari tanpa menimbulkan suatu efek kelelahan yang berarti (Pusat Pengembangan Kualitas Jasmani Tahun, 2003). Sementara itu, Judith Rink (M. Sajoto, 1988:43) mendefinisikan pengertian kesegaran jasmani sebagai “suatu kemampuan yang dimiliki oleh seseorang dalam rangka menyelesaikan tugas sehari-hari dengan tanpa mengalami kelelahan berarti dengan mengeluarkan energi yang cukup besar, guna memenuhi kebutuhan-kebutuhan geraknya dan menikmati waktu luang serta untuk memenuhi keperluan darurat bila sewaktu-waktu diperlukan”.
Dalam penelitian ini, pengukuran kesegaran jasmani didasarkan pada pengukuran kesegaran kekuatan otot (strength fitness) dengan menggunakan bentuk tes Kesegaran Jasmani Indonesia.
3.      Siswa-siswi kelas VIII SMP Kertanegara Malang Tahun Pelajaran 2011/2012
Siswa adalah sekumpulan pelajar pada suatu sekolah tingkat dasar dan menengah (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2002:1102). Umumnya, kata ‘siswa’ adalah sebutan untuk siswa laki-laki, sedangkan siswi adalah sebutan untuk siswa perempuan.
Siswa-siswi kelas VIII SMP Kertanegara Malang Tahun Pelajaran 2011/2012 adalah murid sekolah tingkat menengah pertama yang terdaftar di SMP Kertanegara Malang pada Tahun Ajaran 2011/2012, dengan rata-rata usia antara 12 tahun s/d 15 tahun.







BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A.    Pengertian Kesegaran Jasmani
Kesegaran jasmani merupakan terjemahan dari kata physical fitness, yaitu adalah orang yang fit dan segar adalah orang sehat yang mempunyai tenaga cadangan yang cukup, tidak hanya untuk menghadapi keadaan-keadaan yang darurat tetapi untuk mengisi waktu luang.
Memberikan pengertian-pengertian tentang kesegaran jasmani sangat sulit dikarenakan kesegaran jasmani merupakan permasalahan yang sangat komplek. Pendapat tentang kesegaran jasmani telah banyak dikemukakan para ahli. Menurut Sudarno (1992:9), kesegaran jasmani adalah suatu keadaan saat tubuh mampu menunaikan tugas hariannya dengan baik dan efisien tanpa mengalami kelelahan yang berarti, dan tubuh masih memiliki cadangan tenaga baik untuk mengatasi cadangan mendadak maupun yang darurat.
Kesegaran jasmani adalah seseorang yang cukup mempunyai kesanggupan dan kemampuan untuk melakukan pekerjaan dengan efesien tanpa menimbulkan kelelahan yang berarti (Kamiso, 1991:58). Menurut M. Sajoto (1988:43) kesegaran jasmani adalah kemampuan seseorang menyelesaikan tugas sehari-hari dengan tanpa mengalami berarti, dengan pengeluaran energi yang cukup besar guna memenuhi kebutuhan geraknya dan menikmati waktu luang serta memenuhi keperluan darurat bila sewaktu-waktu diperlukan.
Menurut Depdikbud PJKR (1997:4), kesegaran jasmani pada hakekatnya berkenaan dengan kemampuan dan kesanggupan fisik seseorang untuk melaksanakan tugasnya sehari-hari secara efisien dan efektif dalam waktu yang relatif lama tanpa menimbulkan kelelahan yang berarti, dan masih memiliki tenaga cadangan untuk melaksanakan aktifitas lainnya.
B.     Unsur-unsur Kesegaran Jasmani
Kesegaran jasmani mencakup pengertian yang sangat luas dan komplek. Untuk itu agar dapat memahami konsep kesegaran jasmani yang baik, diperlukan pengetahuan tentang unsur-unsur kesegaran jasmani. Unsur-unsur kesegaran jasmani merupakan satu kesatuan dan memiliki keterkaitan yang erat antara satu dengan yang lain, dan masing-masing unsur memiliki ciri-ciri tersendiri serta memiliki fungsi pokok atau berpengaruh pada kesegaran jasmani seseorang. Agar seseorang dapat dikatakan tingkat kondisi fisiknya baik atau tingkat kesegaran jasmaninya baik, maka status setiap unsur kesegaran jasmani harus dalam kategori baik.
Dalam proses pengukuran kesegaran jasmani, maka yang perlu diukur adalah hal-hal yang menyangkut: 1) kesegaran kardiovaskuler, 2) kesegaran kekuatan otot, 3) kesegaran keseimbangan tubuh, dan 4) kesegaran kelentukan. Dan jika ingin mengetahui unsur lain, maka yang perlu diukur adalah unsur motor fitness, meliputi: 1) koordinasi, 2) keseimbangan, 3) kecepatan, 4) kelincahan, dan 5) daya ledak (M. Sajoto, 1988:43-44).
Secara umum unsur atau unsur-unsur dari kesegaran jasmani itu adalah: 1) daya tahan kardiovaskuler (cardiovascular endurance), 2) daya tahan otot (muscle endurance), 3) kekuatan otot (muscle strength), 4) kelentukan (flexibility), 5) komposisi tubuh (body composition), 6) kecepatan gerak (speed of movement), 7) kelincahan (agility), 8) keseimbangan (balance), 9) kecepatan reaksi (reaction time), 10) koordinasi (coordination) (Depdikbud,1996:1).
1.      Daya tahan kardiovaskuler
Daya tahan kardiovaskuler adalah kesanggupan sistem jantung, paru dan pembuluh darah untuk berfungsi secara optimal pada keadaan istirahat dan kerja dalam mengambil oksigen dan menyalurkan ke jaringan yang aktif sehingga dapat dipergunakan pada proses metabolisme tubuh (Depdikbud, 1997:5).
Daya tahan kardiovaskuler adalah kemampuan seseorang dalam mempergunakan sistem jantung, pernapasan dan peredaran darahnya Dengan demikian untuk membina kesegaran jasmani, kita harus memberi beban kepada sistem kardiorespiratori. Latihan yang kita lakukan harus memberi beban kepada sistem jantung, peredaran darah dan paru. Latihan semacam ini disebut latihan aerobic yaitu latihan yang menggunakan udara dan dilakukan dalam waktu yang cukup lama. Tujuan utama latihan aerobic adalah menggunakan oksigen sebanyak mungkin atau memperbanyak jumlah oksigen yang dapat diproses oleh tubuh (Sudarno SP, 1992:64-65).
2.      Daya tahan otot
Daya tahan otot adalah kemampuan seseorang dalam mempergunakan suatu kelompok ototnya untuk berkontraksi terus menerus dalam waktu relatif cukup lama dengan beban tertentu (M. Sajoto, 1988:58).
Dengan demikian daya tahan otot berarti kemampuan atau kapasitas sekelompok otot untuk melakukan kontraksi yang beruntun atau berulang-ulang terhadap suatu beban dalam jangka waktu tertentu. Jadi daya tahan otot merupakan kemampuan untuk mengatasi kelelahan otot dan berkurang secara bertahap sesuai dengan bertambahnya umur. Namun penurunan daya tahan otot tidak terjadi secepat menurunnya kekuatan otot.
3.      Kekuatan otot
Kekuatan otot adalah tenaga/gaya atau tegangan yang dapat dihasilkan otot atau sekelompok otot pada suatu kontraksi maksimal (Depdikbud, 1997:5).
Kekuatan otot merupakan hal penting untuk setiap orang karena dapat mendukung dalam menyelesaikan tugas-tugas. Penurunan kekuatan otot tidak hanya menganggu keseimbangan tubuh dan aktivitas berjalan, tetapi juga berhubungan dengan peningkatan resiko terjatuh.
4.      Kelentukan
Kelentukan adalah keefektifan seseorang dalam penyesuaian dirinya, untuk melakukan segala aktivitas tubuh dengan penguluran seluas-luasnya, terutama otot-otot, ligamen-ligamen disekitar persendian (M. Sajoto, 1988:58).
Jadi kelentukan merupakan keleluasaan gerak tubuh pada persendian yang sangat dipengaruhi oleh elastisitas otot, tendon dan ligamen sekitar sendi dan sendi itu sendiri. Hubungan antara bentuk persendian umumnya tiap persendian mempunyai kemungkinan gerak tertentu sebagai akibat struktur anatominya. Gerak yang paling penting dalam kehidupan sehari-hari adalah fleksi batang tubuh. Tetapi kelentukan yang baik pada tempat tersebut belum tentu ditempat lainpun demikian (Moeloek, 1994:9).
Dengan demikian kelentukan berarti bahwa tubuh dapat melakukan gerakan secara bebas. Tubuh yang baik harus memiliki kelentukan yang baik pula. Hal ini dapat dicapai dengan latihan jasmani terutama untuk penguluran dan kelentukan.
Faktor yang mempengaruhi kelentukan adalah usia dan aktivitas fisik. Pada usia lanjut kelentukan tubuh atau elastisitas otot berkurang akibat kurang latihan (aktivitas fisik), sehingga alternatif yang terbaik untuk menghambat berkurangnya elastisitas otot secara drastis adalah dengan latihan/ aktivitas fisik yang teratur.
5.      Komposisi tubuh
Komposisi tubuh digambarkan dengan berat badan tanpa lemak dan berat lemak. Berat badan tanpa lemak terdiri atas massa otot (40-50%), tulang (16-18%) dan organ-organ tubuh (29-39%). Berat lemak dinyatakan dalam persentasenya terhadap berat badan total. Secara umum dapat dikatakan makin kecil persentase lemak, makin baik kinerja seseorang (Depdikbud, 1997:6).
Jadi, komposisi tubuh adalah susunan tubuh yang digambarkan sebagi dua unsur yaitu lemak tubuh dan masa tubuh tanpa lemak.
6.      Kecepatan gerak
Kecepatan gerak adalah kemampuan untuk melaksanakan gerak-gerak yang sama atau tidak sama secepat mungkin (Depdikbud, 1997:5).
7.      Kelincahan
Kelincahan adalah kemampuan seseorang dalam merubah arah, dalam posisi-posisi diarena tertentu (M. Sajoto, 1988:59). Kelincahan adalah kemampuan mengubah secara cepat arah tubuh/bagian tubuh tanpa gangguan pada keseimbangan (Depdikbud, 1997:6).
Jadi, kelincahan merupakan kemampuan dari seseorang untuk merubah posisi dan arah secepat mungkin sesuai dengan situasi yang dihadapi dan dikehendaki. Kelincahan tidak hanya diperlukan dalam situasi kerja dan kegiatan rekreasi. Seseorang yang mampu merubah suatu posisi yang berbeda dalam kecepatan tinggi dengan koordinasi yang baik, berarti kelincahannya baik, kesegaran jasmani yang baik tentunya juga didukung oleh kelincahannya yang baik pula. Kelincahan seseorang dipengaruhi oleh usia, tipe tubuh, jenis kelamin, berat badan dan kelelahan (Moeloek, 1994:9).
8.      Keseimbangan
Keseimbangan adalah kemampuan seseorang mengendalikan organ-organ syaraf ototnya, selama melakukan gerak-gerak yang cepat dengan perubahan letak titik-titik berat badan yang cepat pula, baik dalam keadaan statis maupun lebih-lebih dalam gerak dinamis (M. Sajoto, 1988:58).
Keseimbangan bergantung pada kemampuan integrasi antara kerja indera penglihatan, kanalis semisirkularis pada telinga dan reseptor pada otot. Diperlukan tidak hanya pada olahraga tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari (Moeloek, 1994:10).
Keseimbangan ini penting dalam kehidupan maupun berolahraga, dimana tanpa keseimbangan orang tidak dapat melakukan aktivitas dengan baik. Dengan bertambahnya umur keseimbangan akan menurun sebagai akibat dari penurunan sruktur dan fungsi organ keseimbangan.
9.      Kecepatan reaksi
Kecepatan reaksi adalah besaran waktu yang dibutuhkan untuk memberi jawaban gerak setelah menerima suatu rangsangan (Depdikbud, 1997:6).
Kecepatan reaksi adalah waktu tersingkat yang dibutuhkan untuk memberi jawaban kinetis setelah menerima rangsang. Hal ini erat kaitannya dengan waktu refleks, waktu gerakan dan waktu respon. Faktor yang mempengaruhi kecepatan reaksi antara lain: usia, jenis kelamin, kesiapan, intensitas stimulus, latihan, diet, dan kelelahan (Moeloek, 1994:10-11).
10.  Koordinasi
Koordinasi adalah kemampuan seseorang dalam mengintegrasikan gerakan yang berbeda ke dalam suatu pola gerakan tunggal secara efektif (M. Sajoto, 1988:59).

C.    Fungsi dan Manfaat Kesegaran Jasmani
1.      Fungsi kesegaran jasmani
Fungsi dari kesegaran jasmani adalah untuk mengembangkan kemampuan, kesanggupan daya kreasi dan daya tahan dari setiap manusia yang berguna untuk mempertinggi daya kerja (Kamiso, 1991:63).
Jadi, daya kerja seseorang dapat ditingkatkan dengan cara meningkatkan kesegaran jasmani. Kesegaran jasmani dapat ditingkatkan dengan meningkatkan keseimbangan antara latihan-latihan yang dilakukan dengan reaksi-reaksi atas organ-organ tubuh (antara ergosistem primer dan sekunder).
2.      Manfaat kesegaran jasmani
Latihan-latihan kesegaran jasmani yang dilakukan secara tepat dan benar akan memberikan manfaat bagi tubuh, yaitu:
a.       Memperkuat sendi-sendi dan ligamen.
b.      Meningkatkan kemampuan jantung dan paru-paru (ketahanan kardiorespirasi).
c.       Memperkuat otot tubuh.
d.      Menurunkan tekanan darah.
e.       Mengurangi lemak tubuh.
f.       Memperbaiki bentuk tubuh.
g.      Mengurangi kadar gula.
h.      Mengurangi resiko terkena penyakit jantung koroner.
i.        Memeperlancar pertukaran gas (Depdikbud, 1997:2).

Selain mempunyai manfaat biologis seperti tersebut di atas, latihan kesegaran jasmani juga mempunyai manfaat lainnya, yaitu:
a.       Secara Psikologis adalah mengendurkan ketegangan mental, suasana hati tenang, nyaman dan rasa terhibur.
b.       Secara Sosial adalah Persahabatan dengan orang lain meningkat dalam kualitas dan kuantitas serta menghargai lingkungan hidup dan alam sekitar.
c.       Secara Kultural adalah kebiasaan hidup sehat, teratur dan terencana, melestarikan nilai-nilai budaya yang berkaitan dengan jenis latihan kesegaran jasmani (Depdikbud, 1997:3).
3.      Sasaran dan tujuan kesegaran jasmani
Sasaran dan tujuan kesegaran jasmani akan selalu tergantung dengan obyek yang dituju. Sedangkan obyek yang dituju adalah:
a.       Golongan yang dihubungkan dengan pekerjaan.
1)      Kesegaran jasmani bagi olahragawan untuk meningkatkan prestasi para atlet.
2)      Kesegaran jasmani bagi karyawan untuk meningkatkan hasil efisiensi dan produktifitas.
3)      Kesegaran jasmani bagi para pelajar dan mahasiswa untuk mempertinggi kemampuan aktivitas gerak dan kemampuan belajar.
b.      Golongan yang dihubungkan dengan keadaan.
1)      Kesegaran jasmani bagi penderita cacat dan rehabilitasi.
2)      Kesegaran jasmani bagi ibu hamil untuk perkembangan bayi dalam kendungan dan untuk memperisapkan diri menghadapi kelahiran.
c.       Golongan yang dihubungkan dengan usia.
1)      Kesegaran jasmani bagi anak-anak menjamin perkembangan pertumbuhan.
2)      Kesegaran jasmani bagi orang tua untuk mempertahankan kondisi fisik terhadap serangan suatu penyakit (Kosasih, 1993:10).

D.    Tes Kesegaran Jasmani Indonesia
Tes kesegaran jasmani adalah suatu tes yang akan mengukur kemampuan fisik seseorang dalam melakukan suatu aktifitas yang telah ditentukan (Nurhasan, 2001:154). Kesegaran jasmani bersifat spesifik artinya kebutuhan derajat kesegaran jasmani pelari marathon berbeda dengan kebutuhan kesegaran jasmani pelari jarak pendek. Kebutuhan kesegaran jasmani antara atlet angkat berat/ besi berbeda dengan kebutuhan kesegaran jasmani atlet bulutangkis.
Pengukuran kesegaran jasmani tertuju pada pengukuran aspek-aspeknya. Terdapat dua aspek kesegaran jasmani, yaitu: 1) kesegaran jasmani yang berhubungan dengan kesehatan, meliputi (a) daya tahan jantung dan paru-paru, (b) kekuatan otot, (c) daya tahan otot, (d) fleksibilitas, dan (e) komposisi tubuh; 2) kesegaran jasmani yang berhubungan dengan keterampilan, mencakup (a) kecepatan, (b) power, (c) keseimbangan, (d) kelincahan, (e) koordinasi, dan (f) kecepatan reaksi (Nurhasan, 2001:133).
Mengacu kepada batasan mengenai kesegaran jasmani dan pendapat para pakar mengenai unsur-unsur yang terdapat dalam kebugaran jasmani, maka dapat dikemukakan bahwa unsur yang terdapat dalam lingkup kebugaran jasmani, meliputi: 1) kekuatan, 2) daya ledak, 3) kecepatan, 4) kelenturan, 5) daya tahan otot, dan 6) daya tahan kardio-respiratori (Nurhasan, 2001:134).
Dalam lingkup pendidikan, menurut Nurhasan (2001:134) fungsi tes kebugaran jasmani dalam program pengajaran Penjaskes, meliputi:
1.      Mengukur kemampuan fisik siswa.
2.      Menentukan status kondisi fisik siswa.
3.      Menilai kemampuan fisik siswa, sebagai satu tujuan pengajaran Penjaskes.
4.      Mengetahui perkembangan kemampuan fisik siswa.
5.      Sebagai bahan untuk memberikan bimbingan dalam meningkatkan kebugaran jasmani siswa.
6.      Sebagai salah satu masukan dalam memberikan nilai pelajaran Penjaskes.
Menurut Nurhasan (2001:135), tes kesegaran jasmani Indonesia terdiri dari 5 butir tes, dengan rangkaian tesnya yaitu: 1) lari cepat, 2) angkat tubuh, 3) baring duduk, 4) loncat tegak, dan 5) lari jauh. Tes kesegaran jasmani Indonesia dikelompokkan berdasarkan tingkatan sekolah, yaitu:
1.      Tingkat Sekolah Dasar
Dalam proses pengukuran kesegaran jasmani tingkat Sekolah Dasar dibagi menjadi dua kelompok, yaitu:
a.       Kelompok tingkat Sekolah Dasar kelas 1, 2 dan 3
Adapun bentuk tes kesegaran jasmani yang diberikan meliputi 5 butir tes (Nurhasan, 2001:135), yaitu
a.       Tes lari cepat 30 meter
b.      Tes angkat tubuh 30 detik
c.       Tes baring duduk 30 detik
d.      Tes loncat tegak
e.       Tes lari 600 meter
b.      Kelompok tingkat Sekolah Dasar kelas 4, 5 dan 6
Adapun bentuk tes kesegaran jasmani yang diberikan meliputi 5 butir tes (Nurhasan, 2001:148-149), yaitu
a.       Tes lari cepat 40 meter
b.      Tes angkat tubuh 30 detik
c.       Tes baring duduk 30 detik
d.      Tes loncat tegak
e.       Tes lari 600 meter
2.      Tingkat Sekolah Menengah Pertama
Adapun bentuk tes kesegaran jasmani yang diberikan meliputi 5 butir tes (Nurhasan, 2001:149-150), yaitu
a.       Tes lari cepat 50 meter
b.      Tes angkat tubuh (30 detik untuk putri; 60 detik untuk putra)
c.       Tes baring duduk 60 detik
d.      Tes loncat tegak
e.       Tes lari jauh (800 meter untuk putri; 1000 meter untuk putra)

3.      Tingkat Sekolah Menengah Atas
Adapun bentuk tes kesegaran jasmani yang diberikan meliputi 5 butir tes (Nurhasan, 2001:150-151), yaitu
a.       Tes lari cepat 50 meter
b.      Tes angkat tubuh (30 detik untuk putri; 60 detik untuk putra)
c.       Tes baring duduk 60 detik
d.      Tes loncat tegak
e.       Tes lari jauh (1000 meter untuk putri; 1200 meter untuk putra)

4.      Uraian pelaksanaan tes kesegaran jasmani Indonesia
a.      Tes lari cepat
1)   Alat dan fasilitas
a)   Lintasan lurus, rata dan tidak licin; jarak lintasan disesuaikan dengan kelompok atau tingkat sekolah
b)   Peluit
c)   Stopwatch
d)   Bendera start dan tiang pancang
e)   Formulir pencatat hasil tes
2)   Pelaksanaan
a)   Testee berdiri di belakang garis start dengan sikap start berdiri. Pada aba-aba ‘Ya’, stopwatch dijalankan dan testee berlari ke depan secepat mungkin menuju garis finish. Pada saat testee menyentuh/ melewati garis finish, maka stopwatch pun dihentikan.
b)   Kesempatan tes harus diulang bilamana: 1) pelari mencuri start dan berlari di luar lintasan, 2) pelari terganggu oleh pelari lainnya.
3)   Skor
Skor hasil tes yaitu waktu yang dicapai oleh pelari untuk menempuh jarak tertentu (sesuai dengan kelompok atau tingkat sekolah). Waktu dicatat sampai persepuluh detik.
b.      Tes angkat tubuh
1)   Alat dan fasilitas
a)   Lantai yang rata dan bersih
b)   Palang tunggal, yang tinggi rendahnya dapat diatur, sehingga testee dapat bergantung
c)   Stopwatch
d)   Formulir pencatat hasil tes

2)   Pelaksanaan
a)   Testee bergantung pada palang tunggal, sehingga kepala, badan dan tungkai lurus. Kedua lengan dibuka selebar bahu dan keduanya lurus.
b)   Testee mengangkat tubuhnya, dengan membengkokkan kedua lengan, sehingga dagu menyentuh atau melewati palang tunggal, kemudian kembali ke sikap semula. Lakukan gerakan tersebut secara berulang-ulang, tanpa istirahat selama waktu yang ditentukan.
3)   Skor
Skor hasil tes yaitu jumlah gerakan angkat tubuh pada palang tunggal yang mampu dilakukan testee selama waktu yang ditentukan.
c.       Tes baring duduk
1)   Alat dan fasilitas
a)   Lantai/ lapangan rumput yang bersih
b)   Stopwatch
c)   Formulir pencatat hasil tes
2)   Pelaksanaan
a)   Testee berbaring terlentang di atas lantai/ rumput. Kedua lutut ditekuk ± 900. Kedua tangan dilipat dan diletakkan di belakang kepala, dengan jari tangan saling berkaitan dan kedua tangan menyentuh lantai. Salah seorang teman testee membantu memegang dan menekan kedua pergelangan kaki, agar kaki testee tidak terangkat. Pada aba-aba ‘Ya’, testee bergerak mengambil sikap duduk, sehingga kedua sikunya menyentuh paha, kemudian kembali ke sikap semula. Lakukan gerakan itu berulang-ulang cepat tanpa istirahat selama waktu yang ditentukan.
b)   Gerakan baring duduk gagal, bilamana: 1) kedua lengan testee terlepas, sehingga jari-jarinya tidak terjalin, 2) kedua tungkai testee ditekuk dengan sudut lebih dari 900, 3) kedua siku testee tidak menyentuh paha.
3)   Skor
Skor hasil tes yaitu jumlah gerakan baring duduk yang mampu dilakukan testee dengan benar selama waktu yang ditentukan.
d.      Tes loncat tegak
1)   Alat dan fasilitas
a)   Dinding yang rata dan lantai yang rata dan cukup luas
b)   Papan berwarna gelap ukuran 30x150 cm, berskala satuan sentimeter, digantung pada dinding. Tinggi jarak antara lantai dengan angka 0 (nol) pada papan berskala ukuran 150 cm.
c)   Serbuk kapur dan alat penghapus
d)   Formulir pencatat hasil tes
2)   Pelaksanaan
Testee berdiri tegak dekat dinding, bertumpu pada kedua kaki, dan papan dinding berada di samping tangan kiri atau kanannya. Kemudian, tangan yang berada dekat dinding diangkat lurus ke atas telapak tangan, ditempelkan pada papan berskala, sehingga meninggalkan bekas raihan jarinya. Kedua tangan lurus berada di samping telinga. Kemudian testee mengambil sikap awalan dengan membengkokkan kedua lutut, lalu testee meloncat setinggi mungkin sambil menepuk papan berskala dengan tangan yang terdekat dengan dinding, sehingga meninggalkan bekas raihan pada papan berskala. Tanda ini menampilkan tinggi raihan loncatan testee. Testee diberi kesempatan melakukan sebanyak 3 kali loncatan.
3)   Skor
Ambil tinggi raihan yang tertinggi dari ketiga loncatan tersebut, sebagai hasil tes loncat tegak. Hasil loncat tegak diperoleh dengan cara hasil raihan tertinggi dari ketiga loncatan tersebut dikurangi tinggi raihan tanpa loncatan.
e.       Tes lari jauh
1)   Alat dan fasilitas
a)   Lapangan yang rata
b)   Peluit
c)   Stopwatch
d)   Bendera start dan tiang pancang
e)   Nomor dada
f)    Formulir pencatat hasil tes
2)   Pelaksanaan
Testee berdiri di belakang garis start. Pada aba-aba ‘Siap’, testee mengambil sikap start berdiri. Pada aba-aba ‘Ya’, stopwatch dijalankan dan testee lari secepat mungkin menuju garis finish. Pada saat testee menyentuh/ melewati garis finish, stopwatch dihentikan. Bila ada testee yang mencuri start, maka testee tersebut dapat mengulangi tes tersebut.
3)   Skor
Skor hasil tes yaitu waktu yang dicapai oleh pelari untuk menempuh jarak tertentu (sesuai dengan kelompok atau tingkat sekolah). Waktu dicatat sampai persepuluh detik.




BAB III
METODE PENELITIAN

A.    Jenis Penelitian
Jenis pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi survei. Menurut Arikunto (2002:90), studi survei adalah salah satu pendekatan penelitian yang pada umumnya digunakan untuk pengumpulan data yang luas dan banyak.
Van Dalen (Arikunto, 2002:90-91) mengemukakan bahwa survei merupakan bagian dari studi deskriptif yang bertujuan untuk mencari kedudukan (status) fenomena (gejala) dan menentukan kesamaan status dengan cara membandingkannya dengan standar yang sudah ditentukan.
Dalam penelitian ini, peneliti ingin mengetahui status kesegaran jasmani siswa melalui tes kesegaran jasmani sesuai prosedur pelaksanaan tes yang digunakan. Penentuan statusnya adalah dengan membandingkan hasil tes kesegaran jasmani dengan standar atau norma penilaian tes kesegaran jasmani yang ada.

B.     Populasi dan Sampel
1.      Populasi
Populasi adalah keseluruhan subyek penelitian (Arikunto, 2002:108). Apabila seseorang ingin meneliti semua elemen yang ada dalam wilayah penelitian, maka penelitiannya merupakan penelitian populasi. Studi atau penelitiannya juga disebut studi populasi atau studi sensus.
Dalam penelitian ini, populasi yang digunakan adalah seluruh siswa kelas VIII SMP Kertanegara Malang Tahun Pelajaran 2011/2012. Kelas VIII terbagi menjadi 2 kelompok/ kelas belajar, yaitu kelas VIIIA dan VIIIB. Adapun jumlah seluruh siswa kelas VIII tercantum dalam tabel berikut.
Tabel 3.1 Data Jumlah Siswa Kelas VIII
Kelas
Jumlah
Total
Putra
Putri
VIIIA
14
18
32
VIIIB
13
17
30
Jumlah
27
35
62

Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa jumlah seluruh siswa kelas VIII SMP Kertanegara Malang Tahun Pelajaran 2011/2012 adalah 62 siswa.

2.      Sampel
Sampel adalah contoh atau wakil dari populasi yang cukup besar jumlahnya dengan tujuan untuk memperoleh keterangan mengenai obyeknya dengan jalan hanya mengamati sebagian saja dari populasi (Kartono, 1996:115). Sedangkan Arikunto (2002:109) mendefinisikan sampel, yaitu “sebagian atau wakil dari populasi yang diteliti”.
Lebih lanjut, Arikunto (2002:112) menerangkan bahwa untuk sekedar ancer-ancer, jika subyeknya kurang dari 100 lebih baik diambil semua sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi. Jika jumlah subyeknya besar maka dapat diambil 10-15% atau 20-25% atau lebih.
Merujuk pada pendapat Arikunto di atas, oleh karena populasi penelitian ini berjumlah kurang dari 100 siswa, maka jumlah sampelnya diambil dari seluruh populasi, yaitu 62 siswa kelas VIII SMP Kertanegara Malang Tahun Pelajaran 2011/2012.
Sementara itu, dalam proses pengumpulan data, sampel atau subyek dipisahkan, yaitu antara siswa putra dan putri. Alasannya adalah karena kemampuan atau kondisi fisik antara siswa putra dan putri adalah berbeda.

C.    Teknik Pengumpulan Data
Prosedur pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu tes performance, berupa pelaksanaan tes Kesegaran Jasmani Indonesia untuk tingkat SLTP sesuai dengan prosedur pelaksanaan tes menurut Nurhasan (2001:149-150). Pada tahap pelaksanaan tes, peneliti menyediakan sarana dan prasarana tes yang ada. Kemudian peneliti memberikan penjelasan yang berhubungan dengan tujuan, maksud, dan manfaat dari tes yang akan diberikan dan dilaksanakan oleh siswa, sekaligus memberikan semangat atau motivasi agar siswa dapat melaksanakan tes dengan sungguh-sungguh sesuai prosedur yang telah ditetapkan.
Adapun prosedur pelaksanaan tes untuk masing-masing butir tes Kesegaran Jasmani Indonesia tingkat SLTP (Nurhasan, 2001:149-150) adalah, sebagai berikut:
1.      Tes lari cepat 50 meter
a.       Tujuan tes lari cepat 50 meter, yaitu untuk mengukur kecepatan lari seseorang (Nurhasan, 2001:136)
b.      Alat/ fasilitas
1)      Lintasan lurus, rata dan tidak licin; jarak lintasan adalah 50 meter
2)      Peluit
3)      Stopwatch
4)      Bendera start dan tiang pancang
5)      Formulir pencatat hasil tes
c.       Pelaksanaan
1)      Testee berdiri di belakang garis start dengan sikap start berdiri. Pada aba-aba ‘Ya’, stopwatch dijalankan dan testee lari ke depan secepat mungkin untuk menempuh jarak 50 meter. Pada saat testee menyentuh/ melewati garis finish, stopwatch dihentikan.
2)      Kesempatan tes harus diulang jika:
1)      Pelari mencuri start dan berlari di luar lintasan
2)      Pelari terganggu oleh pelari lainnya
d.      Skor
Skor hasil tes yaitu waktu yang dicapai oleh pelari untuk menempuh jarak 50 meter. Waktu dicatat sampai persepuluh detik.
2.      Tes angkat tubuh (30 detik untuk putri; 60 detik untuk putra)
a.       Tujuan tes angkat tubuh, yaitu untuk mengukur kekuatan dan daya tahan otot lengan dan bahu (Nurhasan, 2001:137)
b.      Alat/ fasilitas
1)      Lantai yang rata dan bersih
2)      Palang tunggal, yang tinggi rendahnya dapat diatur, sehingga testee dapat bergantung
3)      Stopwatch
4)      Formulir pencatat hasil tes
c.       Pelaksanaan
1)      Testee bergantung pada palang tunggal, sehingga kepala, badan dan tungkai lurus. Kedua lengan dibuka selebar bahu dan keduanya lurus.
2)      Kemudian testee mengangkat tubuhnya, dengan membengkokkan kedua lengan, sehingga dagu menyentuh atau melewati palang tunggal, kemudian kembali ke sikap semula. Lakukan gerakan tersebut secara berulang-ulang, tanpa istirahat selama waktu yang ditentukan.
d.      Skor
Skor hasil tes yaitu jumlah gerakan angkat tubuh pada palang tunggal yang mampu dilakukan testee selama waktu yang ditentukan.
3.      Tes baring duduk 60 detik
a.       Tujuan tes baring duduk, yaitu untuk mengukur kekuatan dan daya tahan otot perut (Nurhasan, 2001:141)
b.      Alat/ fasilitas
1)      Lantai/ lapangan rumput yang bersih
2)      Stopwatch
3)      Formulir pencatat hasil tes
c.       Pelaksanaan
1)      Testee berbaring terlentang di atas lantai/ rumput. Kedua lutut ditekuk ± 900. Kedua tangan dilipat dan diletakkan di belakang kepala, dengan jari tangan saling berkaitan dan kedua tangan menyentuh lantai. Salah seorang teman testee membantu memegang dan menekan kedua pergelangan kaki, agar kaki testee tidak terangkat. Pada aba-aba ‘Ya’, testee bergerak mengambil sikap duduk, sehingga kedua sikunya menyentuh paha, kemudian kembali ke sikap semula. Lakukan gerakan itu berulang-ulang cepat tanpa istirahat selama 60 detik.
2)      Gerakan baring duduk gagal, bilamana:
a)      Kedua lengan testee terlepas, sehingga jari-jarinya tidak terjalin
b)        Kedua tungkai testee ditekuk dengan sudut lebih dari 900
c)      Kedua siku testee tidak menyentuh paha
d.      Skor
Skor hasil tes yaitu jumlah gerakan baring duduk yang mampu dilakukan testee dengan benar selama 60 detik.
4.      Tes loncat tegak
a.       Tujuan tes loncat tegak, yaitu untuk mengukur daya ledak (power) otot tungkai (Nurhasan, 2001:144)
b.      Alat/ fasilitas
1)      Dinding yang rata dan lantai yang rata dan cukup luas.
2)      Papan berwarna gelap ukuran 30x150 cm, berskala satuan ukuran sentimeter, digantung pada dinding, dengan ketinggian jarak antara lantai dengan angka 0 (nol) pada papan berskala ukuran 150 cm.
3)      Serbuk kapur dan alat penghapus.
4)      Formulir pencatat hasil tes.
c.       Pelaksanaan
Testee berdiri tegak dekat dinding, bertumpu pada kedua kaki, dan papan dinding berada di samping tangan kiri atau kanannya. Kemudian, tangan yang berada dekat dinding diangkat lurus ke atas telapak tangan, ditempelkan pada papan berskala, sehingga meninggalkan bekas raihan jarinya. Kedua tangan lurus berada di samping telinga. Kemudian testee mengambil sikap awalan dengan membengkokkan kedua lutut, lalu testee meloncat setinggi mungkin sambil menepuk papan berskala dengan tangan yang terdekat dengan dinding, sehingga meninggalkan bekas raihan pada papan berskala. Tanda ini menampilkan tinggi raihan loncatan testee. Testee diberi kesempatan melakukan sebanyak 3 kali loncatan.
d.      Skor
Ambil tinggi raihan yang tertinggi dari ketiga loncatan tersebut, sebagai hasil tes loncat tegak. Hasil loncat tegak diperoleh dengan cara hasil raihan tertinggi dari ketiga loncatan tersebut dikurangi tinggi raihan tanpa loncatan.
5.      Tes lari jauh (1000 meter untuk putri; 1200 meter untuk putra)
a.       Tujuan tes lari jauh, yaitu untuk mengukur daya tahan kardiorespiratori (Nurhasan, 2001:147)
b.      Alat/ fasilitas
1)      Lapangan yang rata atau lintasan yang telah diketahui panjangnya sehingga mudah untuk menentukan jarak 1000 atau 1200 meter
2)      Peluit
3)      Stopwatch
4)      Bendera start dan tiang pancang
5)      Nomor dada
6)      Formulir pencatat hasil tes
c.       Pelaksanaan
Testee berdiri di belakang garis start. Pada aba-aba ‘Siap’, testee mengambil sikap start berdiri. Pada aba-aba ‘Ya’, stopwatch dijalankan dan testee lari secepat mungkin menuju garis finish. Pada saat testee menyentuh/ melewati garis finish, stopwatch dihentikan. Bila ada testee yang mencuri start, maka testee tersebut dapat mengulangi tes tersebut.
d.      Skor
Skor hasil tes yaitu waktu yang dicapai oleh pelari untuk menempuh jarak 1000 meter (putri) atau 1200 meter (putra). Waktu dicatat sampai persepuluh detik.

D.    Teknik Analisis Data
Data penelitian yang terkumpul adalah data kuantitatif, karena datanya berupa angka-angka. Dengan demikian digunakan teknik statistik dalam proses penganalisaan data penelitian. Namun demikian, karena standar atau norma penilaian tes Kesegaran Jasmani Indonesia telah ditentukan, maka untuk mengetahui status kesegaran jasmani siswa, peneliti menganalisa data dengan teknik analisis persentase (%).
Hasil analisis persentase (%) tersebut berupa kategori, yaitu Baik Sekali, Baik, Cukup, Kurang, dan Sangat Kurang.
Adapun selengkapnya mengenai langkah-langkah dalam penganalisaan data penelitian adalah, sebagai berikut:
1.      Menentukan nilai mean/ rata-rata tes
Analisis nilai mean/ rata-rata digunakan untuk mengetahui rata-rata pencapaian hasil tes untuk tiap butir tes serta menentukan rata-rata status kesegaran jasmani siswa. Adapun rumus yang digunakan, sebagai berikut:
di mana;
M      :  Mean/ rata-rata
∑x     :  Jumlah skor hasil tes
N      :  Jumlah seluruh siswa

2.      Menghitung persentase (%) hasil tes
Analisis persentase (%) digunakan untuk mengetahui besaran pencapaian hasil tes dan status kesegaran jasmani siswa dalam bentuk %. Adapun rumus yang digunakan, sebagai berikut:
di mana;
P       :  Persentase (%)
F       :  Frekuensi siswa (menurut kategori hasil tes)
N      :  Jumlah seluruh siswa
3.      Menentukan status kesegaran jasmani siswa
Penentuan status kesegaran jasmani siswa adalah dengan cara membandingkan hasil tes kesegaran jasmani siswa dengan norma penilaian tes Kesegaran Jasmani Indonesia. Adapun norma penilaian tes Kesegaran Jasmani Indonesia menurut Depdikbud (1995) adalah:
Tabel 3.2 Norma Penilaian Tes Kesegaran
Jasmani Indonesia untuk SLTP
Butir Tes 1
Butir Tes 2
Butir Tes 3
Butir Tes 4
Butir Tes 5
Nilai
Putra
(detik)
Putri (detik)
Putra
Putri
Putra
Putri
Putra (cm)
Putri (cm)
Putra
(detik)
Putri (detik)
<6,8
<7,4
>18
>14
>24
>20
>49
>45
<8,15
<10,15
5
6,8–7,3
8,5–7,4
14–18
11–14
19–24
16–20
43–49
38–45
8,15–10
10,15–12
4
7,4–8,1
9,7–8,6
9–13
7–10
13–18
11–15
36–42
31–37
10,01–12,3
12,01–14,3
3
8,2–9,2
10,9–9,8
4–8
3–6
7–12
5–10
29–35
24–30
12,31–14,3
14,31–16,3
2
>9,2
>10,9
<4
<3
<7
<5
<29
<24
>14,3
>16,3
1

Keterangan:
a.       Butir tes 1 adalah tes lari cepat 50 meter
b.      Butir tes 2 adalah tes angkat tubuh (30 detik untuk putri; 60 detik untuk putra)
c.       Butir tes 3 adalah tes baring duduk 60 detik
d.      Butir tes 4 adalah tes loncat tegak
e.       Butir tes 5 adalah tes lari jauh (800 meter untuk putri; 1000 meter untuk putra)
Berdasarkan norma penilaian tes di atas, maka diketahui nilai tertinggi hasil tes pada tiap butir tes adalah 5 dan terendah adalah 1. Sedangkan total nilai hasil tes untuk seluruh butir tes adalah 25 (tertinggi) dan 5 (terendah). Dari analisis penilaian tes tersebut, maka dapat disusun kategori penentuan status kesegaran jasmani siswa, sebagai berikut:
Tabel 3.3 Status Kesegaran Jasmani Siswa
Nilai Akhir
Status Kesegaran Jasmani
21 – 25
Baik Sekali
16 – 20
Baik
11 – 15
Cukup
6 – 10
Kurang
1 – 5
Sangat Kurang


Tidak ada komentar:

Posting Komentar